Monday, 27 July 2009

BAGIAN 00003 - LANDS NOT FOR EVERYBODY

Hari ini, 10 November 2034, suhu bumi sudah tidak bisa diprediksi, musim sudah tidak lagi sesuai dengan jadwal. Cuaca hanya bersahabat di wilayah-wilayah tertentu. Di wilayah-wilayah yang telah dipatok oleh para penguasa bumi. Para penguasa yang bermodalkan teknologi tak terhindari.


Saat 10 tahun yang lalu, seorang ilmuan, Bagre Sugrisnge menemukan sebuah teori tentang rekayasa molekul air dengan partikel buatan yang baru diciptakan dengan sebutan "Water Predator". Partikel yang memisahkan secara paksa unsur Helium dan Oxygen dalam air dan secara paksa pula menggabungkan dua unsur Oxygen, sedangkan Helium yang telah terpisahkan terbakar menjadi kabut udara berwarna putih terang.

Penemuan itu membangkitkan keserakahan yang telah lama tertahankan. Keserakahan akan penguasaan lahan, keserakahan yang yang ingin membalik kenyataan bahwa pemanasan global bukanlah suatu isu besar, keserakahan atau sebuah kekuasaan. Berdasarkan penemuan itu terbersitlah untuk menjadikan salah satu lautan luas di Bumi menjadi hamparan putih oleh karena terbakarnya Helium. Hamparan putih yang diklaim akan menjaga suhu bumi dari panas matahari dengan memantulkannya kembali. Teori itupun memberikan harapan untuk menurunkan garis laut dan menjadikan lahan-lahan dan pulau baru.

Setelah itu, NASO, salah satu instansi luar angkasa terbesar di Bumi melengkapi satelit pengintai mereka dengan senjata penembak "Water Predator". Lokasi yang menjadi sasaran pertama 9 tahun yang lalu adalah Lautan Atlantik.

Dan setahun setelah inisiasi penembakan partikel "Water Predator" tersebut, sampah Helium berwarna putih terang seluas benua Australia telah terbentuk, akan tetapi awan jingga semakin tebal menyelimuti Lautan Atlantik, udara dingin yang dihasilkan dari pemantulan sinar matahari kembali ke langit tidak kuat melawan udara yang sangat panas hasil dari terbakarnya Helium. Mencekam, yang membuat takut setiap kapal yang akan melewati Lautan. Panas yang amat sangat menyebabkan udara yang sangat dingin di bagian bumi yang berseberangan dengan Lautan Atlantik. Berkurangnnya debit air laut secara keseluruhan Bumi menyebabkan setiap pulau yang pernah ada selanjutnya memiliki garis pantai yang menjauh 5 km ke arah laut. Lahan-lahan baru tercipta, konflik-konflik baru mengenai perbatasan tercipta.

Hari ini, 10 November 2034, manusia tidak bisa melihat matahari lagi. Awan jingga peninggalan project "Water Predator" ternyata selalu menutupi sebagian besar wilayah Bumi. Dari luar angkasa Bumi tidak lagi terlihat biru. Perang saudara masih terjadi di berbagai negara untuk memperebutkan lahan-lahan baru. Pohon-pohon tidak lagi tumbuh secara normal. Umat manusia hidup ketergantungan dengan sintetis penyokong hidup. Tidak ada lagi isu global warming, yang ada hanya global cooling.

No comments:

Post a Comment